Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2021

Aratemeru VS Naosu VS Tadasu

Politik dan Perencanaan: Konflik dan Ketidaksetujuan

Berikut adalah ringkasan dan refleksi dari bahan yang saya pelajari sebelum kelas berlangsung: Saya melihat orang-orang memiliki pandangan berbeda-beda terhadap konflik. Ada yang menganggapnya menyeramkan, ada yang menganggapnya tantangan, ada yang menganggapnya drama, ada yang menganggapnya sebagai upaya untuk berubah ke arah yang lebih baik. Konflik dapat menjadi hal yang positif jika ditanggulangi dengan baik dengan menghasilkan inovasi dan meningkatkan produktivitas. Sumber konflik bermacam-macam: konflik tujuan, konflik proses, konflik peran, konflik hubungan, konflik sumber daya (kelangkaan), konflik perubahan (ketidakpastian), dan konflik nilai. Konflik dapat meningkat akibat buruknya komunikasi dan tingginya ketidakpastian. Manajemen konflik dapat diatasi dengan matriks konflik oleh Thomas Kilmann yang memuat empat alternatif: kompetisi, penghindaran, kolaborasi, dan akomodasi. Peran perencana adalah sebagai mediator untuk memberikan alternatif solusi dalam menghadapi masalah y

Sungai, Banjir, dan Kebencanaan

Ir. Siswoko membawa paparan kali ini dengan tiga pertanyaan: (a) apa itu banjir, (b) mengapa banjir terjadi, dan (c) bagaimana pengelolaan banjir semestinya. Berkaca ke kondisi saat ini, baik Pemerintah maupun masyarakat “terobsesi” dengan istilah bebas banjir . Padahal, banjir adalah hal yang natural dan tidak mesti menjadi masalah sepanjang manusia memberikan respons yang tepat. Sayangnya, penanggulangan kita terhadap banjir saat ini masih belum tepat. Misalnya, terdapat infrastruktur yang sering diterapkan, tetapi sebenarnya menyalahi hukum alam. Contohnya, normalisasi palung sungai. Menurut Ir. Siswoko, normalisasi yang dilakukan justru melawan kondisi normal sungai yang sebenarnya.

Swift Recovery dan Tourism Recovery: Studi Kasus di Arashiyama, Kyoto, Jepang

Abstrak Taifun Man-yi yang menghantam Jepang pada September 2013 menyebabkan banjir bandang yang merusak Distrik Arashiyama, Prefektur Kyoto. Padahal, Arashiyama merupakan salah satu destinasi wisata nasional di Jepang. Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini ialah swift recovery mendukung tourism recovery di Arashiyama, Kyoto, Jepang. Penelitian ini bertujuan untuk (a) menjabarkan efektivitas swift recovery , (b) menganalisis faktor-faktor penyebab efektivitas keberjalanan swift recovery ; (c) menganalisis aktor-aktor yang berperan dalam keberjalanan swift recovery , serta (d) menjelaskan peran disaster countermeasure dalam tourism recovery di Arashiyama. Metode analisis yang digunakan adalah tinjauan literatur dari artikel utuh berbahasa Indonesia, Inggris, atau Jepang dengan kata kunci " 嵐山 "/”Arashiyama”, “ 迅速な回復 ”/”swift recovery”, “ 台風 18 号 ”/”Typhoon No. 18”, dan “flood”. Terbukti bahwa hipotesis benar. Selain itu, terbukti bahwa swift recovery berjalan den

Talking About Contribution of ASEAN (and Their Youth)

Socially active and politically empowered, ASEAN youth have been provided with many platforms to share their ideas and advocacies and promote cross-cultural understanding on a regional level. Examples of these youth platforms are the Ship for Southeast Asia and the Japanese Youth Program (SSEAYP), and the ASEAN Youth Forum (AYF). They allow the ASEAN youth to join in cultural activities that encourage cooperation and enhance ASEAN awareness. They also provide a chance for youth to represent their countries and act as youth ambassadors, empowering them to generate alternative perspectives in seeing the world through their interactions and learning of other's perceptions. 

Talking About Maximizing Tourism Potential in ASEAN

Southeast Asia has a rich and diverse set of cultural tourism resources. Thus, tourism is one of the priority sectors under the ASEAN Economic Community pillar. We expect that by 2025, ASEAN will be a quality tourism destination offering a unique and diverse experience that is responsible, sustainable, balanced, and inclusive to contribute significantly to the socio-economic well-being of people. Therefore, ASEAN Tourism Strategic Plan (ATSP) 2016-2025 was made.