Langsung ke konten utama

1 a.m.

Saya melihat sebuah mimpi; saya terbangun tepat pada pukul 01.00 WIB.
.

.

Minggu lalu dihiasi air mata hingga menyakitkan kepala, tetapi minggu ini semuanya tampak lebih baik-baik saja. Tidak, semuanya seperti sudah baik-baik saja, bahkan tugas-tugas yang sempat menumpuk sekalipun. Apakah memang demikian, ataukah saya terlalu memaksakan diri untuk menyegerakan semua baik-baik saja, saya tidak tahu.

Namun, hingga kemarin malam, saya masih teriritasi oleh hal-hal kecil yang sebenarnya tidak perlu dipusingkan. Saya berpikir keras mengenai kenapa ya aku mudah banget tersinggung begini, kemudian jatuh terlelap.

Akhir-akhir ini, saya jarang melihat mimpi. Tertidur, dimakan gulita, kemudian tersentak bangun tanpa alarm--iya, saya jarang membuat alarm, sebuah kenekatan menghadapi kelas pagi.

Akan tetapi, kemarin malam berbeda. Setelah tidur yang ibarat mimpi panjang untuk dikendarai, saya terbangun pada pukul 01.00 dan merenungkan makna mimpi tersebut--benar-benar hanya mematung dan merenung--selama tujuh menit.

.

.

Permulaan mimpi sebenarnya sudah mengabur. Kalau tidak salah, saya diundang ke sebuah acara di restoran, lalu berjalan menuju wastafel, dan suasana selebihnya terlihat oke. Namun, saya masih ingat jelas bahwa langkah menuju wastafel itu membawa insekuritas dalam dada. Saya khawatir akan penampilan saya, saya khawatir akan tatapan orang terhadap saya, saya khawatir akan anggapan yang berbeda, dan entah kenapa saya ingin keluar dari keramaian yang hangat itu.

Mimpi berikutnya, satu mimpi yang aneh tatkala saya dan teman saya menjatuhkan bom ke sebuah apartemen semata-mata untuk melihat reaksi ibu peri. Konklusinya, saya masih tidak dapat percaya kepada orang lain, bahkan kepada ibu peri yang dalam mimpi itu--sebelumnya--digadang-gadang menjadi sosok andalan untuk menyelamatkan hidup manusia. Bahkan, saya mestinya tidak dapat memercayai diri sendiri yang tega menjatuhkan bom, dalam mimpi tersebut.

Yang selanjutnya, seonggok mimpi yang tidak kalah mustahil, saya bersama teman-teman berjuang melawan seekor monster yang wujudnya tidak pernah saya lihat, tetapi teman-teman saya pernah. Mereka berkata monster tersebut sekali pandang tidak menyeramkan--tampan, malah--tetapi sangat membahayakan jika telah "masuk" ke dalam matanya.

Teman-teman dan saya menyerang dari kejauhan, dengan satu dua orang dikirim untuk berhadapan langsung dengan si monster. Namun, setelah saya membidik dari kejauhan, saya menyadari yang saya lukai adalah teman satu regu saya. Melalui sambungan suara, dia bilang dia tidak apa-apa meskipun terhempas ke sebuah sungai, tetapi--anehnya--sepenglihatan saya, dalam kepala saya, sosoknya sedang terluka dan bersusah payah bangkit, akibat ulah saya. 

Latar tempat berubah menjadi sebuah rumah, rumah musuh yang kami mesti mengendap-endap di dalamnya. Saya mengumpulkan teman-teman yang menyerang dari kejauhan, mencoba menginstruksikan bahwa kita harus dibagi menjadi tiga tim--saya lupa detailnya, tapi saat itu saya yakin tengah memaparkan solusi yang tepat. Namun, seseorang tidak mendengarkan dan saya marah

Saya memaparkan seluruh strategi secara frontal, dengan volume suara yang besar sebab dongkol karena tidak dihargai. Tiba-tiba, terdengar suara seseorang menggunakan toilet--sepertinya komplotan musuh dalam bentuk manusia--dan kami semua terdiam. Teman saya kemudian berbisik, lirih menyebut nama saya, dan saya tahu, saya melakukan hal yang salah, lagi

Saya berlari meninggalkan teman-teman, merasa tidak aman karena suara saya sudah terdengar. Keberadaan saya telah diketahui musuh, demikian saya kira, maka saya harus bersembunyi. Saya menemukan gudang pakaian dan bersembunyi di antara kain-kain berdebu. 

Beberapa waktu berlalu dan tidak ada apa-apa; saya terus bergeming dan tidak mau keluar. Bahkan, ketika terjadi gempa--iya, saya merasakan goncangan hebat dalam mimpi itu--saya tidak peduli dan terus bersembunyi.

Puncak mimpi tersebut adalah ketika terdengar suara-suara memanggil nama saya. Ketakutan saya semakin jadi, bahkan saya membalikkan badan untuk membelakangi pintu gudang yang sejak awal dibiarkan terbuka. Suara-suara itu semakin jelas, mendekat, dan membesar; tenyata suara teman-teman. Seseorang pun masuk--saya ingat jelas siapa orang tersebut, yakni seorang sahabat baik di dunia nyata--dan dia berhenti memanggil. Dia langsung menemukan saya, menghampiri saya, meraih tangan saya, kemudian--anehnya--berkata, 

"Zahra lagi sembunyi? Aku lihat Zahra lagi ngembus-ngembus kain, makanya kok ada kain yang gerak-gerak."

...hei, aku lagi diam mematung, lho. 

Mendengar penuturannya, hati saya menjawab seolah tidak setuju.

Namun, saya tersadar, badan saya memaksa mengisolasi diri, tetapi jiwa saya meronta, meminta bantuan untuk keluar dari ruang yang sepi.

Rangkaian mimpi itu berakhir dengan diajukannya empat pilihan: bertemu dengan monster penanda kiamat dunia, menghadapi lagi monster yang katanya tampan tapi belum pernah saya lihat, mati dan menjadi plastik (?), atau mati dan menjadi plastik yang banyak (?).

Kemudian, sepertinya, saya langsung terbangun--tetapi masih dalam tahap setengah sadar--dan batin saya menyahut, "Mendingan mati dan menjadi plastik yang banyak. Siapa tahu plastiknya terbawa angin dan dipakai para tunawisma sebagai alas tidur."

.

.

Sebagian orang mengaku mimpi mengandung makna tertentu, sebagian yang lain menganggap mimpi hanya bunga tidur, dan sebagian yang lain lagi merasa mimpi tidak lebih dari refleksi isi kepala sebelum terlelap.

Saya belajar, khususnya dari mata kuliah fisika dan kalkulus, bahwa dunia dapat dilihat dari tiga sumbu: absis, ordinat, dan aplikat. Akan tetapi, pikiran saya seperti mengejar dimensi keempat. Saya tidak percaya dunia sebatas panjang, lebar, dan tinggi--walaupun secara visual, benar demikian. Dimensi keempat mestinya ada, lantas saya mempertanyakan wujudnya. Bagaimana penampakannya bila disandingkan bersama tiga sumbu lain dalam koordinat kartesius.

Ataukah tidak ada?

Ataukah ada, tapi tidak bisa digambarkan?

Ataukah dimensi keempat bukan hal yang mampu diwujudkan dengan rupa, melainkan sebatas rasa?

.

.

Saat mengetik ini, satu setengah jam telah berlalu sejak saya tersentak, tetapi bibir saya belum mengeluarkan sepatah kata. Apakah saya masih tenggelam dalam renungan, ataukah semata-mata karena tidak ada yang bisa diajak bicara di kamar, saya tidak tahu.

Namun, suara yang memanggil nama saya di akhir mimpi terasa nyata.

Suara yang seolah ingin berkata,

kamu meluka, bersalah, terjatuh, berulang kali,
tapi berhenti melarikan diri lagi,

aku ingin kamu mengerti,
kamu tidak sendiri.

Membangunkan saya yang terburu-buru melihat jam,

01.00.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Urutan Benua Terbesar

Konban wa, minna-san! Kita tinggal di Bumi, yang tentunya memiliki beberapa benua. Di sini, Miichan mau mengurutkan dari benua yang terbesar ke yang terkecil! Semoga bermanfaat!


1. Asia
Luas wilayahnya 44.580.000 km²Memiliki prosentase daratan sampai 29,4%Benua terbesar dengan populasi terpadat Wilayahnya benua Asia mencakup 8,6% permukaan Bumi yang meliputi daratan luas Afrika-Eurasia tanpa Eropa dan Afrika. Batas antara Asia dan Eropa sangat kabur, yakni berasa di wilayah Dardanella, Laut Marmara, selat Bosforus, Laut Hitam, pegunungan Kaukasus, Laut Kaspia, Sungai Ural (atau Sungai Emba), dan Pegunungan Ural hingga Novaya Zemlya, sedangkan dengan Afrika, Asia bertemu di sekitar Terusan Suez. Sekitar 60% populasi dunia tinggal di Asia. Wilayah Asia merupakan benua Asia ditambah kepulauan di sekitar Samudra Hindia dan Pasifik.

Model Sel Tumbuhan

Minggu lalu, Miichan bersama teman-teman sekelompok Miichan (Ina, Anneechan, Deannova), kumpul untuk membuat model sel ini dan hari Jum'at kemarin dikumpulkan ^^ Ini dia..



Sayangnya Miichan nggak ada di foto karena Miichan lagi sakit, jadi nggak masuk sekolah T_T
Ini keterangan dari model sel tumbuhannya : Bola hijau adalah model dari nukleolus dan bintik pinknya adalah model dari nukles (bagian dari nukleolus)Tali-tali biru di dekat bola hijau yang ada pink-pinknya adalah retikulum, sedangkan tali-tali merah di dekatnya di sebelah kanan (yang numpuk), itu adalah retikulum endoplasma halusTali gepeng merah bersama mangkok (?)dan bola-bola merah yang di dekat tali-tali biru adalah badan golgiSterofom biru di tengah-tengah adala vakuolaLingkaran gepeng kuning yang di tengahnya ada liukan gepeng jingga di bagian tengah adalah mitokandriaTiga lingkaran hijau dengan bulat-bulat kuning adalah kloroplasSterofom bagian samping yang berdiri tegak menjadi penutup model itu adalah dinding se…

Lirik Lagu "Si Patokaan" dan Maknanya

Minna, konbanwa!

Di kesempatan kali ini, Miichan ingin membagikan lirik lagu daerah dari Sulawesi Utara, yaitu "Si Patokaan". Dan pastinya nggak akan srek kalau belum dilengkapi makna dari liriknya. Oke, langsung saja! :D

~ SI PATOKAAN ~ Sayang sayang, Si Patokaan Mantego-tego gorokan Sayang Sayang sayang, Si Patokaan Mantego-tego gorokan Sayang
Sako mangemo tanah man jauh Mangemo milei lek lako Sayang Sako mangemo tanah man jauh Mangemo milei lek lako Sayang
Lagu ini memiliki pola penuturan pantun. Sementara maknanya sendiri adalah ungkapan perasaan cinta sekaligus khawatir dari seorang Ibu pada anaknya yang sudah beranjak dewasa dan telah wajib mencari nafkah sendiri, biasanya anak laki-laki. Perasaan khawatir ini erat kaitannya dengan sebab "sang anak hendak merantau". Jika dilihat lebih dalam, lirik lagu ini secara utuh mengandung doa dan motivasi. Oh ya, Si Patokaan sendiri berarti orang-orang yang termasuk dalam wilayah Minahasa di Provinsi Sulawesi Utara.

Tet…